JALAN SUKSES SHANGHAI DAN FINLANDIA—Analisis Faktor-faktor Keberhasilan Tes PISA di Shanghai dan Finlandia

 

JALAN SUKSES SHANGHAI DAN FINLANDIA

Analisis Faktor-faktor Keberhasilan Tes PISA di Shanghai dan Finlandia

 

1. Latar belakang

Programme for International Student Assessment (PISA) dikembangkan di dalam kerangka definisi tersebut yang dilaksanakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

Program PISA dilaksanakan setiap tiga tahun dan ditujukan untuk siswa berusia 15 (15 tahun, 3 bulan hingga 16 tahun dan 2 bulan) yang belajar di kelas 7 dan di atas dari berbagai lembaga pendidikan. Tes ini mencakup sains, matematika, dan membaca. Tes PISA dipimpin OECD yang menyelidiki siswa berusia 15 tahun di 65 negara, salah satu temuannya adalah bahwa siswa dan siswa Finlandia di China(Shanghai) termasuk yang terbaik dalam membaca, matematika dan literasi ilmiah. Finlandia dan Shanghai China telah mendapat hasil kunggulan dalam tes PISA. Finlandia dan Shanghai mengikuti tes PISA mulai tahun 2009, Shanghai mendapat nomer 1 dan hasil tes Finlandia juga sangat baik mendapat nomer 3. Tahun 2012, Shanghai dapat nomer 1 lagi, hasil tes FInlandia walaupun turun, tapi masih menjadi yang hasil terbaik dalam Eroupa. Tahun 2015, Pewakilan China untuk mengikuti tes PISA tidak hanya Shanghai sendiri, tapi menjadi Shanghai, Beijing, Guangdong dan Jiangsu, oleh karena ini, hasil tes PISA 2015 China turun menjadi nomer 10, tapi jika hanya lihat hasil tes PISA Shanghai, nlainya masih tetap nomer 1; hasil tes PISA Finlandia hampil tidak berubah.

Maskipun dari kritiknya bahwa "PISA focus on areas too narrow to capture the whole spectrum of school education, and thus ignore social skills, moral development, creativity, or digital literacy as important outcomes of public education" (Sahlberg, 2011). Tapi perlu diperhatikan, penting untuk tes PISA bukan tes prestasi sekolah konvensional: "In all cycles, the domains of reading, mathematical and scientific literacy are covered not merely in terms of mastery of the school curriculum, but in terms of important knowledge and skills needed in adult life." (http://www.pisa.oecd.org/).

 

2. Introduksi

Singkatnya, Shanghai dan Finlandia telah mencapai hasil yang sangat baik dalam tes PISA, dan bukan kebetulan bahwa Shanghai dan Finlandia telah mencapai hasil baik. Meskipun ada perbedaan besar dalam faktor sosial-historis antara Finlandia dan Shanghai, beberapa kesamaan masih dapat ditemukan, yang bisa menjadi alasan utama di balik keberhasilan pendidikan Finlandia dan Shanghai: 1) Guru yang unggul dan pendidikan guru yang berkualitas tinggi; 2) Kemitraan Sekolah 3) Pendekatan pedagogis. Artikel ini membahas tiga faktor ini dan memunculkan beberapa perbedaan yang bisa dijelaskan.

 

3. Pendidikan Guru Berkualitas Tinggi dan Guru yang Unggul

a. Pendidikan Guru Di Finlandia dan Shanghai

Baik di Finlandia dan Shanghai, sangat kompetitif untuk menjadi seorang guru. Gelar pendidikan perguruan tinggi dalam ilmu pendidikan sangat penting dalam syarat untuk menjadi seorang guru.

Di Finlandia, untuk menjadi guru sekolah dasar maupun atasnya, mahasiswa harus belajar setidaknya selama 5 tahun untuk mendapatkan gelar master dalam jurusan pendidikan guru; dan untuk menjadi guru pendidikan paud atau anak usia dini harus mendapat gelar bachelor. Sekitar dari 20 calon mahasiswa yang pendaftaran di Program Pendidikan Guru di universitas, hanya 1 orang dapat diterima. Menurut data dari University of Helsinki, tahun 2011-2012, Kementrian Pendidikan Finlandia hanya menyetda 120 tempat guru sekolah dasar, tapi hampir 2400 orang pendaftaran..

Di Shanghai, hampil semua guru sekolah dasar punya latar belakang pendidikan sama dengan guru di Finlandia. Menurut data dari Dinas Pendidikan Shanghai, salah satu syarat penerimaan guru di sekolah-sekolah dasar maupun ke atas di Shanghai adalah minimal gelar master dan harus dari jurusan ilmu pendidikan(normal university), untuk memenuhi sysrat tersebut setidaknya 6 tahun studi di universitas. Dan saat ini, hampil semua calon guru di Shanghai dari 5 normal university utama di China(Di China ada ratusan normal university).

Shanghai dan Finlandia sangat ketat dalam pemilihan guru dan persyaratannya sangat tinggi. Hal ini menjamin bahwa kualitas guru memiliki sangat tinggi. Dan memberikan dasarnya yang kuat untuk membangun tim guru yang sangat berkualitas.

b. Pengembangan Profesional Guru di Shanghai dan Finlandia

Selain sistem seleksi yang ketat, pendidikan profesional guru juga sangat dihargai di Shanghai dan Finlandia.

Pendidikan profesional guru di Shanghai dilengkapi dengan pengembangan profesional wajib(Continual Professional Development/CPD). Shanghai adalah tempat pertama yang mewajibkan CPD untuk semua guru di China. Setiap guru (di sekolah dasar dan menengah pertama) diwajibkan untuk terlibat dalam 360 jam program CPD dalam 5 tahun (OECD, 2010).

Sebagai perbandingan, hanya ada 3 hari pengembangan profesional wajib oleh dinas pendidikan local ditawarkan kepada guru di Finlandia (Sahlberg, 2011). Menurut Kumpulainen (2008), sekitar 2/3 guru sekolah dasar dan menengah mengikuti program pengembangan profesi pada tahun 2007. Tapi menurut laporan dari Kementerian Pendidikan Finlandia, tahun 2009 jumlah guru yang mengikuti program pengembangan profesional menurun.

c. Pemimpin Pendidikan adalah Guru

Kinerja tinggi dalam bidang pendidikan dibutuhkan banyak pengalaman di dalam dunia pendidikan. Di beberapa negara, otoritas dan administrasi bidang pemerintah pendidikan dipimpin oleh orang-orang yang tidak berpengalaman dunia pendidikan.

Sebaliknya, hampir semua petugas di otoritas pendidikan pemerintah (Shanghai), baik di tingkat kota dan kabupaten, pmempunyai pengalam dalam dunia pendidikan, dan banyak orang mulai pekerjaan dari guru sekolah. Sebagian besar dari mereka pernah menjadi guru atau kepala sekolah dengan track record yang kuat (OECD, 2010).

Demikian di Finlandia, semua kepemimpinan pendidikan di pemerintah pendidikan dari pendidik profesional yang memiliki pengalaman dalam dunia pendidikan. Seorang kepala sekolah harus mampu mengajar yang dibutuhkan dari sekolahnya, dan harus menyelesaikan program studi tentang kepemimpinan dan administrasi pendidikan. Calon kepala sekolah di Finlandia diwajibkan punya pengalaman guru, setelah menjadi kepala sekolah, banyak orang  terlibat dalam pengajaran di kelas setidaknya selama 2-3 jam per-hari dan hingga 20 jam pelajaran per-minggu.

 

4. Kemitraan antar Sekolah

Dalam hal kemitraan antara sekolah dan seklah lain, disparitas dan ketidaksetaraan cukup tinggi antara Shanghai dan Finlandia. Namun, dalam reformasi pendidikan baru-baru ini, Shanghai telah berupaya untuk memperbaiki sistem sekolahnya dengan caranya mengubah sekolah yang kualitasnya kurang menjadi sekolah yang unggul. Untuk mencapai tujuan ini, beberapa strategi dilaksanakan, seperti: pertukaran guru antara sekolah di daerah perkotaan dan pedesaan; memjadi sister school antara sekolah di daerah perkotaan dan pedesaan, dan sekolah negeri yang "baik" membantu mengelola sekolah yang "lemah". Berdasar  strategi "bantu mengelola", sekolah negeri yang "baik" mengirim pemimpin yang berpengalaman (seperti wakil kepala sekolah) untuk menjadi kepala sekolah di sekolah yang "lemah", dan juga mengirim satu tim guru berpengalaman untuk memimpin dalam mengajar. Mereka menyakinkan bahwa etos, gaya manajemen, dan metode pengajaran dari sekolah yang baik akan ditransfer ke sekolah yang "lemah".(Xu, 2012)

Demikian di Finlandia, kebagian guru di antara sekolah dan sekolah lain di satu kota telah menjadi kebiasaan. Selain itu, karena desentralisasi manajemen publik dan pendidikan pada awal 1990-an, kota-kota di Finlandia telah mengembangkan pendekatan perbagian pemimpin dan guru sekolah dan kerjasama untuk menanggapi tekanan yang penurunan siswa baru dan sumber daya. Pemerintah di Filandia telah berupaya meningkatkan dan memperbaiki kualitas sekolah, dan membuat bahwa kepala sekolah bertanggung jawab tidak hanya untuk sekolah sendiri tetapi juga untuk seluruh dearahnya, dan ada perecanaan dan evaluasi manajemen dan pengawasan bersama untuk pengembangan pendidikan sluruh daerah. Reformasi ini sebagai cara untuk mendukug masing-masing pemimpin sekolah berpikir dan pencapaian tujuan bersama. (Hargreaves, 2007).

Untuk hal ini, dalam Negara-negara Global Educational Reform Movement(GERM) lebih susah laksanakan, karena GERM berbasis kepada pasar, maka masing-masing sekolah memiliki tujuan dan keuntungan sendiri. Oleh karena ini, sekolah diminta membantu atau membagikan sumber daya kepada sekolah lain, sangat kemungkinan ditolak oleh sekolahnya. Dan system pemerintah pendidikan berbasis otonomi juga tidak punya hak untuk memerintahkan kepada sekolah langsung.

 

5. Refleksi Pedagogis

a. Eksperimen Kurikulum & Pengajaran yang Disesuaikan

Di Finlandia, Kurikulum tidak harus sesuai standar. Maka sering terjadi kurikulum berbeda masing-masing karena guru dan kepalas di menciptakan kurikulum untuk sekolah sendiri, lalu disetujui oleh pemerintah pendidikan lokal. Sementara sekolah-sekolah Negara lain harus mengikuti kurikulum nasional seperti Amerika, Inggris, atau Canada. Kepribadian dan perkembangan kognitif siswa dipertimbangkan ketika guru merancang dan mengembangkan kurikulum sekolah. Dalam kurikulum sangat sedikit tes standar dalam untuk penilaian siswa.

Di Shanghai juga mencari pendekatan yang lebih baik untuk reformasi kurikulum. Sejak 1988, Shanghai mulai reformasi kurikulum pertamanya dengan focus kepada peningkatan kualitas keseluruhan siswa dengan pendekatan mengintegrasikan kebutuhan masyarakat, pengembangan siswa dan sistem mengatasi praktik "orientasi ujian" di sekolah-sekolah dengan tujuan pendidikan berkualitas (Ding, 2010). Ini telah memasuki gelombang kedua reformasi kurikulum sejak tahun 1998, yang bertujuan untuk mengubah siswa dari penerima pengetahuan pasif menjadi pelajar aktif dengan penekanan pada etika, inovasi, keterampilan praktis, keterampilan informasi dan teknologi, pembelajaran pengalaman, dan pengembangan pribadi masing-masing mahasiswa. (Cui & Zhu, 2014)

Secara umum, reformasi kurikulum memperluas pengalaman belajar siswa, meluaskan pelajaran budaya dan sosial siswa, dan mengembangkan kemampuan siswa, tapi bukan hanya akumulasi pengetahuan. Reformasi kurikulum dicerminkan oleh reformasi pedagoginya, dan didukung oleh perubahan dalam pendekatan pengajaran, dan mengimplementasikannya dengan slogan seperti "kembalikan waktu kelas ke siswa" dan " setiap pertanyaan harus ada jawaban lebih dari satu".

 

6. Kesimpulan

Keberhasilan Finlandia dan Shanghai dalam tes PISA memiliki beberaoa penyebab yang sama, yaitu system seleksi guru dan pendidikan / pengembangan profisi guru yang sangat baik, kerja sama antar sekolah-sekolah dan reformasi kurikulum dan eksperimen pedagogis. Walaupun ada perbedaan sejarah, sosial dan budaya antara Shanghai dan Finlandia.

Ada juga beberapa perbedaan penting yang perlu diteliti, seperti sekolah-sekolah Finlandia memiliki banyak sumber daya dan fasilitas yang dibutuhkan, sementara di Shanghai masih belum sebaik seperti itu, sekolah perkotaan telah setingkat dengan di Finlandia, tapi sekolah perdesaan di Shanghai masih kekurangan sumber daya dan fasilitas. Ujian standar untuk siswa hampil tidak ada di Finlandia saat sekola dasar dan sekolah menengah pertama; tetap masih berat di Shanghai. Siswa di Shanghai menghabiskan rata-rata 9 jam di sekolah setiap hari dan masih ada pekerjaan rumah; sebaliknya, siswa Finlandia hanya memiliki sekitar 5 jam bersekolah per-hari.

Maka muncul pertanyaannya baru: Apakah perbedaan dimuncul antara Shanghai dan Finlandia. Yang mana adalah penyebab negative dan yang mana adalah penyebab positif. Ini akan menjadi judul baru untuk perpikiran berikut.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chen G. On the Misunderstanding of the Implementation of Inquiry Teaching and Its Countermeasures. Shanghai Research On Education. (9), 56-60.

Ding G. (2010). Investigation and Policy Analysis of Professional Development of Primary and Secondary Teachers in China. Shanghai: East China Normal University Press.

OECD. (2007). School leadership for systemic improvement in Finland. http://www.oecd.org/edu/school/39928629.pdf

OECD. (2014). Shanghai and Hong Kong: Two Distinct Examples of Education Reform in China. http://www.oecd.org/countries/hongkongchina/46581016.pdf

Pisa.oecd.org. (2014). PISA – OECD. http:// http://www.pisa.oecd.org/

Sahlberg P, & Hargreaves, A. (2011). Finnish lessons : What can the world learn from educational change in finland?. New York: Teachers College Press.

Xu J. (2012). The History, Culture and Development of Basic Education System in Shanghai. Paper Presented at Sino-Finnish Seminar on Education Systems. http://cice.shnu.edu.cn/LinkClick.aspx?fileticket=X9fAdJJUhjQ%3D&tabid=11413&language=zh-CN

评论